Jumat, 12 Desember 2014

Kehilangan

Ada banyak hal yang membuat manusia terjatuh. Entah itu karena kesalahannya sendiri atau karena orang lain. Tapi, rasanya manusia jauh lebih merasakan kesakitan ketika kesalahannya sendiri. Ada pun manusia dihadapkan oleh takdir yang harus membuatnya terjatuh. Kehilangan. Bisakah manusia mencegahnya? Dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya, waktu yang tiidak diketahui, tetap terjadi. Manusia hanya bisa menerima.

Bagaimana dengan cinta? bagiku sama saja, tak kekal. Sepasang manusia hidup bersama selama puluhan tahun dan pada akhirnya berpisah. Ya, manusia bisa kehilangan cinta.

Saat ini, aku bukan sedang kehilangan "cinta" melainkan telah kehilangan. Yang tertinggal hanyalah rasa "sepi". Aku hanya bisa menangis. Apa lagi yang harus dilakukan? toh dia telah hilang dari kehidupan. Aku jatuh. Rasanya aku ingin seperti dia, menghilang dari dunia ini. Bisa saja mewujudkannya, hanya saja aku akan menjadi pecundang.

Entah sampai kapan harus menangis saat dada terasa sesak kala merindukannya. Entah sampai kapan selalu menangis ketika mengingat kesalahanku padanya.

Untuk dia, Ibuku sayang... kepergianmu menyadarkan arti tangisan malammu waktu itu. Seperti ini kah kesedihanmu? Kini aku tahu kata yang sering kau ucap "ingin pergi". Ya, 3 tahun yang lalu kau benar-benar pergi. Selama itu pun aku menyesali betapa bodohnya tak menyadari kesedihanmu.

Sekarang aku merasakannya. Entah sampai kapan.

Kehilangan

Ada banyak hal yang membuat manusia terjatuh. Entah itu karena kesalahannya sendiri atau karena orang lain. Tapi, rasanya manusia jauh lebih merasakan kesakitan ketika kesalahannya sendiri. Ada pun manusia dihadapkan oleh takdir yang harus membuatnya terjatuh. Kehilangan. Bisakah manusia mencegahnya? Dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya, waktu yang tiidak diketahui, tetap terjadi. Manusia hanya bisa menerima.

Bagaimana dengan cinta? bagiku sama saja, tak kekal. Sepasang manusia hidup bersama selama puluhan tahun dan pada akhirnya berpisah. Ya, manusia bisa kehilangan cinta.

Saat ini, aku bukan sedang kehilangan "cinta" melainkan telah kehilangan. Yang tertinggal hanyalah rasa "sepi". Aku hanya bisa menangis. Apa lagi yang harus dilakukan? toh dia telah hilang dari kehidupan. Aku jatuh. Rasanya aku ingin seperti dia, menghilang dari dunia ini. Bisa saja mewujudkannya, hanya saja aku akan menjadi pecundang.

Entah sampai kapan harus menangis saat dada terasa sesak kala merindukannya. Entah sampai kapan selalu menangis ketika mengingat kesalahanku padanya.

Untuk dia, Ibuku sayang... kepergianmu menyadarkan arti tangisan malammu waktu itu. Seperti ini kah kesedihanmu? Kini aku tahu kata yang sering kau ucap "ingin pergi". Ya, 3 tahun yang lalu kau benar-benar pergi. Selama itu pun aku menyesali betapa bodohnya tak menyadari kesedihanmu.

Sekarang aku merasakannya. Entah sampai kapan.

Rabu, 19 November 2014

Surabaya, 19 November 2014

Cinta? Tidak, aku tidak ingin cinta datang. Aku takut. Saat cinta datang maka akan ada sakit, sakit hati. Untuk saat ini aku tidak ingin dia datang. Lama bisa bangkit dari kesakitan itu membuatku berhati-hati. Sudah berapa kali aku merasakannya, satu... dua... tiga... Ya tiga kali dengan orang yang berbeda. Semua itu menghancurkan mimpi, cita-cita, dan kerja kerasku sia-sia.

Aku hanya belajar dari pengalaman. Tidak salahkan? Aku berusaha tidak membuat "keluarga" kecewa saat tahu apa yang aku lakukan selama ini seperti bermain-main, bertingkah laku seperti remaja labil. Sekali lagi, aku hanya belajar dari pengalaman. Biarkan aku meraih impian yang telah ditargetkan untuk 5 tahun kedepan. Dan kamu, cinta... datanglah.